Minggu, 03 Mei 2015

Forum Anak Batam on Kongres Anak Batam

Haiii... FAB baru aja ngadain Kongres Anak Batam nih. Mau tau keseruannya? Yuk cekidot!

Nah, ini dia orang-orang paling rajin lagi pada beres-beres.


Ini dia tempat yang bakal dipake, dan tadaaa... Inilah before dan afternya taraaa...

                                                                          Before

Dan ini dia suasana ruangan saat hari H.

Oke kenalin satu-satu ya. Itu yang paling kanan jadi sekretaris pimpinan sidang Tasya, yang tengah itu Selly yang jadi pimpinan sidang, terus yang paling kiri itu yang paling alay *haha* yang jadi anggota pimpinan sidang namanya Bobby.

Um anyway, itu yang kerudung ungu itu aku lho *yaudasih*

Menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh Silvia dari komisi Jaringan.

Habis itu dia nyanyi lagu Batamku, duh nyesel lhoo gak dengerin suaranya yang cetar membahana badai haha



Hahaha, sebelum sidang kita seneng2 dulu dong :)

Setalah sidang, masing-masing peserta terpilih dengan acak untuk 'terperangkap' dalam masing-masing komisi untuk presentasi tiap komisi.


Itu yang baju ungu paling cantik mimin, terus yang megang karton itu si Dimas. Dan alhamdulillah pendengar presentasinya anyup2 aja sih dengerinnya *gatau deh cuma dengerin tapi ngerti apa nggak ahaha, ngarepnya sih iya :D *

Setelah itu dari masing-masing komisi dipilih 5 calon duta yang 9 diantaranya akan diberangkatkan  ke Kongres Anak Indonesia. Kalo aku sih udah tua, jadi gak nyalonin diri hahaha.

Jumat, 10 April 2015

Peran globalisasi lewat media massa terhadap nasionalime dan cinta budaya


Indonesia adalah negara dengan beragam budaya, itulah yang menjadi ciri khas bangsa kita di mata dunia. Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu masyarakat Indonesia sendiri mulai lebih mencintai budaya -khususnya kesenian- luar negeri dan melupakan budaya -terlebih di bidang kesenian- dalam negeri. Apa faktor terbesarnya dan apa solusinya?
Media bertugas untuk menyampaikan berita, inilah yang menyebabkan globalisasi (mendunia). Masyarakat dari golongan bawah sampai atas jadi tahu tentang apa yang terjadi di seluruh dunia. Media lah yang banyak memperkenalkan budaya luar, dan -kebetulan- media adalah yang paling banyak dan paling sering dikonsumsi masyarakat. Karena itulah media berpengaruh paling besar terhadap berbudaya
Namun sedikit sangat disayangkan jika dari banyaknya media massa yang ada saat ini hanya sedikit yang menunjukan karakter ke- Indonesiaan, dan tidak sedikit yang lebih banyak membawa budaya asing dan/atau sekedar menjadi corong dari kepentingan pemilik media tersebut dalam menyampaikan
ide gagasannya.
Media harus indepeden, berkarakter dan jujur dalam memberikan informasi kepada masyarakat serta mampu mengajak dan menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air kepada generasi muda dengan memberikan liputan yang berimbang dan objektif untuk mendorong pemahaman wawasan kebangsaan. Sehingga muncul rasa “kebangkitan nasional” dalam generasi muda untuk berusaha belajar, meraih prestasi, dan kemudian berkarya untuk mengisi pembangunan bangsa. Kita menyadari bahwa rasa kebangsaan dan nasionalisme yang terangkum dalam wawasan kebangsaan sudah semakin luntur didalam masyarakat, akibat kemajuan teknologi melalui media massa yang tanpa disadari telah memasukkan budaya yang tidak sesuai dengan kultur bangsa.
Pers yang sangat akrab di kehidupan masyarakat sudah seharusnya dapat menggerakkan kembali roda Nasionalisme kita, dalam hal ini Nasionalisme yang bukan lagi berkaitan dengan penjajah atau terutama terhadap perilaku ekspansif atau agresor negara tetangga, melainkan nasionalisme saat ini adalah usaha untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan negara akibat memudarnya identitas bangsa kita. Dengan mengangkat berita-berita yang bertemakan kebudayaan, membuat masyarakat paling tidak mengetahui kebudayaannya sendiri, semakin seringnya masyarakat disuguhi berita mengenai kebudayaan maka dapat meningkatkan minat masyarakat untuk lebih mengetahui, mendalami dan melestarikan kebudayaan milik kita. Dengan mengetahui dan melestarikan kebudayaan tersebut kita tidak perlu lagi khawatir dengan pengklaiman kebudayaan oleh Negara tetangga. Meningkatnya rasa cinta tanah air dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sehingga semakin meminimkan kemungkinan- kemungkinan untuk terjadinya kerusuhan- kerusuhan yang saat ini banyak terjadi.
Dulu 30-60an yang lalu, anak-anak berebut menyanyikan lagu Indonesia Raya di depan guru. Dulu remaja-remaja berlomba-lomba menampilkan dan memainkan kesenian daerahnya. Ntah untuk menghibur orang di jalan, atau untuk pentas di panggung, atau sekedar menyalurkan hobi. Dulu orang dewasa tak kalah khidmat ketika memberi hormat bendera, saat upacara atau sekedar menunjukkan rasa hormatnya. Tapi apa yang terjadi sekarang?
Bukti nyata dari pengaruh globalisasi itu, antara lain dapat disaksikan dari gaya berpakaian, dan
gaya berbahasa masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda yang sudah berubah yang kesemuanya itu diperoleh karena kemajuan tehnologi informatika dan komunikasi khususnya pada media masa. Globalisasi media dengan segala nilai yang dibawanya seperti lewat televisi, radio, majalah, koran, buku, film, VCD, HP, dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak pada budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
 Pemuda-pemudi sekarang justru lebih sibuk dengan misalnya K-Pop, Anime, dorama Jepang, dan lain-lain. Bisa dihitung dengan jari siapa yang masih sibuk melestarikan budaya Indonesia.
Kemudian remaja-remaja juga lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gadgetnya masing-masing dibanding menghabiskan waktu bersama keluarga. Jadi seperti itu lho, contoh akibat globalisasi yang mempengaruhi budaya kita.
Bagaimana media massa tidak berperan banyak?
Media massa selalu berlomba-lomba agar mereka diperhatikan, tentu supaya rating mereka naik dan mereka untung. Caranya adalah menampilkan berita yang paling disukai masyarakat, yaitu tentang budaya luar. Karena masyarakat sudah terlanjur suka budaya luar, mereka akan sediki menampilkan budaya dalam negeri, mereka tidak akan untung karena kurang dilihat.
Jadi, apa solusinya?
1. Media massa boleh tetap menampilkan, memperkenalkan tentang budaya luar dengan filter yang jelas, serta hanya menampilkan bagian positif dari berita tersebut.
2. Setiap stasiun seperti radio, televisi, koran, dan lain-lain boleh tetap menampilkan budaya luar, namun harus tetap menampilkan dan dengan menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap budaya dalam negeri, misalnya dengan cara mempromosikannya, menayangkan tentang sejarah Indonesia, dan lebih banyak menampilkan tentang budaya dalam negeri dibanding budaya luar dengan porsi 60 : 40 persen.
3. Tapi yang lebih penting lagi adalah ketegasan Pemerintah dalam menerapkan hukum baik Undang-Undang Pers, Undang-Undang Perfilman dan Undang-Undang Penyiaran secara tegas dan konsisten disamping tentu saja partisipasi dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media yang kalau dibiarkan bisa menghancurkan negeri ini.
Kesimpulan dari tulisan saya, hendaknya kita memfilter setiap kebudayaan yang dating dari luar apakah sudah sesuai dengan kepribadian bangsa atau belum, dan hendaknya media massa sebagai konsumsi terbanyak masyarakat memperhatikan apakah tayangan sudah berkualitas dan membentuk karakter atau belum, serta tetap lebih banyak mengenalkan budaya sendiri dan dengan menumbuhkan rasa cinta kita terhadap

Peran Budaya bagi Pengembangan Demokrasi


Negara Indonesia memiliki berbagai suku, bahasa, tradisi dan kearifan lokal serta kebudayaan  yang menjadi tolak ukur  dalam sistem pemerintahan kita, yaitu demokrasi. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, budaya asing mulai ‘merasuki’ Indonesia. Masyarakat akhirnya menyerap berbagai budaya asing tersebut tanpa memilah apakah sudah sesuai dengan kepribadian bangsa atau belum.

Akibatnya, masyarakat akan mulai mengabaikan budaya aslinya sendiri, dan budaya asli Indonesia pun mulai luntur, bahkan sebagian mulai hilang, misalnya Reog Ponorogo yang mulai hilang di tengah zaman. Hal ini akan berdampak sangat besar kepada generasi penerus bangsa. Mereka akan merasa asing terhadap budayanya sendiri dan merasa lebih cocok dengan budaya luar yang bahkan belum tentu lebih baik. Dengan begitu, moral generasi bangsa akan rusak, kepribadian bangsa akan memudar, rasa nasionalisme akan berkurang.

Kalau budaya sendiri saja dilupakan, apalagi rasa nasionalisme? Dan kalau rasa nasionalisme saja sudah pudar, bagaimana akan berdemokrasi dengan baik untuk kebaikan dan kepentingan bersama?

Di samping itu, kita lihat sekarang, budaya demokrasi yang menyuarakan suara hati rakyat, justru menjadi daging empuk bagi para politisi yang mengejar kedudukan. Masyarakat miskin dan yang belum memiliki pendidikan politik dengan baik diiming-imingi kesejahteraan dengan dengan memilih politisi tersebut. Sedangkan setelah mereka menjabat mereka seperti kacang lupa kulit!

Mereka lupa dengan janji-janji mereka. Mereka sibuk memperkaya diri dari uang rakyat! Seperti tikus-tikus pemakan sampah di got, tanpa berfikir bagaimana nasib mereka yang hartanya dizhalimi. Mereka lupa akan janji dan harapan rakyat jelata dan para pencari keadilan. Dimana otak ketika hawa nafsu sudah dikedepankan?
Demokrasi sendiri juga menjadi ajang saling unjuk gigi dengan saling menjatuhkan para sesama ‘pemburu kekuasaan’ dan untuk saling menjelekkan antara politisi dan simpatisan. Ini hal yang sangat memprihatikan.
Undang-Undang Dasar dan undang-undang telah memberi acuan tentang bagaimana harusnya demokrasi itu sendiri berjalan. Demokrasi di Indonesia juga memang telah mengalami berbagai perubahan sistem, tetapi budaya politiknya tetap sama!
Demokrasi di Indonesia saat ini seolah hanya berorientasi kepada kekuasaan. Berbagai budaya politik yang sangat melekat di Indonesia misalnya “asal bapak senang”. Seperti apa yang pemerintah mau tetapkan, kita harus turut, tidak peduli seberapa dampaknya terhadap masyarakat.

Budaya demokrasi juga harusnya menjunjung tinggi sikap kejujuran dan kesamaan hukum. Bukan ‘tumpul ke atas runcing ke bawah’. Dahulu ketika masih kecil, saya sering bertanya, mengapa ketika ada berita di televisi, bahwa ada seorang tua miskin, yang keriput, sudah pikun, dalam keadaan terpaksa mencuri pisang tetangga, diadili penjara beberapa bulan, sedangkan di televise, banyak sekali berita tentang petinggi-petinggi berdasi dan berjas korupsi, bisa mendapat fasilitas di masa hukumannya. Bahkan bisa berkeliaran tanpa was was.
Saya berpikir bahwa demokrasi sejatinya adalah surga bagi para pencari keadilan, yang dengan bebas dapat beraspirasi dan menyalurkan pendapat. Kurang indah apalagi? Bahkan pemerintah lah yang memegang peranan kesejahteraan. Pemerintah bahkan juga memberi kebebasan bagi masyarakat untuk ikut andil. Sistem pemerintahan nan indah, bukan?
Berbagai penyimpangan demokrasi ini adalah bukti kuat akibat dari pudarnya nasionalisme, yang mana diawali dari pengabaian terhadap budayanya sendiri.

Semoga tulisan saya tersebut bisa kembali menyadarkan kita untuk lebih mengenal, mengembangkan dan mencintai budaya kita, karena mencintai budaya kita adalah langkah awal untuk menumbuhkan sikap nasionalisme. Dengan nasionalisme lah kita bisa mulai berdemorasi dengan baik, untuk kebaikan dan kepentingan bersama. Mulailah dari diri sendiri, Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membela Negara Indonesia?

How To Improve My English

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuh
Hello guys, in this opportunity I would like to tell you why and how we should improve our English. There are two reasons convex me why we should learn English.
First, English is an international language.
It means, if we meet foreigners no matter where they come from, they speak English. We also can make friends abroad via chatting or correspondent, talking in English, as international language.
Second, English skill is very helpful to go to favorite school and to get jobs.
For example, I’ll tell you about my cousin and my friend. I have a cousin, I call him Mas Nono. The highest education he got is only under degree, but he won a lot of English contest, like debate, speech, story telling, etc. Because he has good ability in English and in his profession, he could join Slambersih company. Do you know what Slambersih is? Slambersih is an oil and gas American Company, one of a very great company in Indonesia. In fact, the other job seekers have higher education degree than Mas Nono. And I have a friend, he also won a lot of English contest. The latest news I have heard about him is he got opportunity to join AFS or student exchange programs. What a great opportunity!
Well, that two reasons convex me why we should improve our English. So how we improve our English?
English divided into four skills, namely :
1.     Speaking Skill
2.     Writing Skill
3.     Listening Skill
4.     Reading Skill
Well, I’ll tell you how we improve those skills.
First, how to improve speaking skill?
You can speak English with yourself in front of the mirror. Or read English dialogue loudly
Second, how to improve our writing skill?
You can write anything you want in English! You can write your own diary in English, or blogging in English, or have correspondent or chatting friends abroad.
Third! How we improve our listening skill?
First, find what you interest! If you like western or Hollywood movies, watch your favorite film with subtitles. After you understand the film, watch other movie like before. Or if you don’t like watching films but you like listening to music, listen to your favorite English song! Or listen the English radio or you can listen to English news, as often as you can.
And the last! How to improve your reading skill?
Improve reading skill is quite easy. You can read English text on many medias, like blog, English books, English news (on newspaper), or else.
So those are how we improve our English. The last but not least, don’t give up learn English.
I think that’s all for my essay, thank you very much! ^^
--Keep learn—
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuh

PENGARUH PERTUMBUHAN PENDUDUK YANG PESAT DI MASA MENDATANG TERHADAP SOSIAL, BUDAYA,DAN AGAMA

Setiap kelompok masyarakat di manapun mereka berada pasti pernah mengalami perubahan-perubahan. Perubahan itu ada yang mencolok dan ada pula yang kurang mencolok, ada yang berlangsung secara cepat dan ada pula yang lambat, ada yang berpengaruh besar dan ada pula yang kecil. Perubahan-perubahan itu dapat berupa perubahan terhadap nilai dan norma-norma sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi sosial, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.
Bertambahnya jumlah penduduk yang sangat cepat, dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan nilai yang dianut masyarakat.Sedangkan berkurangnya jumlah penduduk terutama yang diakibatkan oleh proses migrasi (seperti urbanisasi, transmigrasi, dan lain-lain) juga dapat mengakibatkan kekosongan, misalnya pada bidang pembagian kerja.
Pada umumnya, masalah kependudukan yang sering menimbulkan perubahan sosial budaya tersebut adalah akibat pertambahan penduduk yang disebabkan oleh arus urbanisasi (ke kota), dan juga akibat berkurangnya jumlah penduduk terutama di daerah-daerah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang berurbanisasi tersebut. Adanya urbanisasi penduduk ke kota-kota besar atau tempat-tempat lain yang menjanjikan harapan telah menimbulkan ketidak-seimbangan antara luas daerah beserta sumber-sumber kehidupannya dengan jumlah penduduk yang ada.

Maka, persaingan untuk memenuhi kebutuhan hidup jadi semakin tinggi, angka pengangguran juga semakin bertambah akibat sulitnya mendapatkan pekerjaan-pekerjaan di sektor formal (karena biasanya para pendatang tidak memiliki ijazah dan keahlian-keahlian khusus sehingga mereka kalah saing dengan tenaga-tenaga kerja terdidik kota yang umumnya memiliki semua persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan di sektor formal), dan akibat lebih lanjut adalah munculnya kerawanan di bidang keamanan serta ketertiban masyarakat.

Keadaan seperti itu jelas dapat menimbulkan perubahan-perubahan baru pada masyarakat, seperti perubahan corak kehidupan sosial (masyarakat) yang lebih bersifat individual, sementara kebalikan dari semua itu, ialah bahwa di daerah-daerah yang ditinggalkan (umumnya daerah pedesaan) akan lambat pembangunannya, antara lain karena tenaga-tenaga potensial yang ada berurbanisasi ke kota-kota.
 Semakin banyak jumlah penduduk, artinya lahan pekerjaan semakin berkurang Karena dipakai untuk tempat tinggal. Terbatasnya kesempatan kerja sedangkan pesaing semakin banyak sebenarnya dapat banyak mempengaruhi nilai-nilai yang dianut masyarakat pada umumnya. Misalnya dimulai pada seorang ibu yang dulunya hanya sibuk mengurus urusan rumah tangga dan anak-anaknya. Tetapi keterbatasan ekonomi –yang disebabkan semakin kuatnya persaingan akibat semakin sempitnya lahan pekerjaan-, akibatnya, mereka yang sudah mulai ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian dan pendidikan moral dari orangtua, saat itulah anak-anak mulai kurang terkendali. Nah, inilah yang menjadi awal dari penyimpangan sosial.
Lalu misalnya dikarenakan susahnya mencari pekerjaan dengan gaji besar, maka mereka yang lemah agama dan imannya akan menghalalkan semua cara asal pendapatannya sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian dari segi sosial misalnya, kita dapat melihatnya dari perbandingan orang yang tinggal di perkotaan –terutama yang metropolitan- dan orang yang tinggal di pedesaan. Warga desa yang reaksi sosialnya berupa gotong royong dan kekeluargaan, karena di desa persaingan pekerjaannya tidak begitu tinggi, sehingga sikap saling peduli pun masih tinggi. Sedangkan di kota, persaingan sangat tinggi. Karena itulah mereke cenderung individualis karena sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk sesama, itulah salah satu contoh dampak pertumbuhan penduduk yang berhubung dengan sempitnya lahan pekerjaan, terhadap sosial, budaya, dan agama.
Orang tua dan orang dewasa memiliki peranan penting dalam penegakan dan pengendalian penyimpangan sosial dengan cara mendidik, mengajak, memberi contoh,dan lain lain. Ketika orang tua sudah sibuk mensejahterakan tanpa ada waktu untuk memperhatikan anak-anaknya, maka dari sinilah peluang penyimpangan sosial itu ada.
Semakin banyak jumlah penduduk yang tidak didasari pendidikan yang baik, akan membuat daerah tersebut semakin semrawut. Tentu kesemrawutan yang diakibatkan masyarakat yang kurang mendapat pendidikan yang baik tersebut akan menjadi lingkungan kondusif timbulnya penyimpangan sosial.
Penyimpangan sosial negatif yang dipengaruhi pertumbuhan penduduk yang pesat seperti perbandingan wanita ama pria yang lebih bnyak wanita. ,, di dunia pekerjaan, wanita kehilangan mata pencaharian juga semakin sempitnyanya pekerjaan khusus wanita ,, para wanita harus mencari pekerjaan lain ,,, dengan itu lah pekerjaan pria di ambil alih oleh wanita juga. Hal ini pun termasuk pendorong emansipasi wanita.
Faktor terpenting pendorong pertumbuhan penduduk yang pesat adalah karena tingginya angka kelahiran. Tingginya angka kelahiran sendiri mempunyai beberapa factor yaitu ; usia perkawinan yang relatif muda, melekatnya ungkapan banyak anak banyak rejeki, kepercayaan sosial dan religius -terutama berhubungan dengan kontrasepsi-, kemakmuran secara ekonomi, dan lain-lain.
Sebenarnya tidak mengapa jika suatu keluarga memutuskan ingin memiliki banyak anak, karena pada dasarnya itu adalah hak setiap pasangan. Akan tetapi seharusnya setiap pasangan memiliki rencana yang terstruktur dan bersifat konsisten. Setiap orang tua harus mengimbanginya dengan pendidikan yang baik, berupa moral maupun akademis. Juga harus mempunyai pendapatan yang cukup untuk menghidupi anak-anaknya. Karena ketika setiap anak itu sudah mempunyai suatu keyakinan, bekal, dan ilmu serta informasi yang cukup dan layak, maka pertumbuhan penduduk yang pesat ini akan menjadi umpan balik yang menguntungkan bagi negara, karena mereka mempunyai skill yang bisa memajukan suatu negara tersebut, bukan justru menjadi beban negara.
Dikatakan menjadi beban negara adalah ketika jumlah masyarakat itu banyak tetapi tidak berpendidikan yang layak dan mempunyai keterampilan.Maka dengan inilah semboyan "banyak anak banyak rejeki" itu bisa terealisasi.
Oleh karena itu, solusi yang diberikan pemerintah untuk menahan pertumbuhan penduduk yang pesat tersebut serta meningkatkan kualitas penduduk tersebut adalah :
- menggalakkan wajib belajar 12 tahun
- mengadakan program KB, serta menggalakkan semboyan "dua anak lebih baik" untuk mengganti semboyan "banyak anak banyak rejeki".
- membuat aturan di perundang-undangan tentang perkawinan, yang mana pemerintah menetapkan usia minimal menikah, agar tidak terjadi pernikahan usia muda -yang memunculkan potensi banyak anak-.
- menupayakan pemerataan penduduk dengan mengirim sebagian masyaƕakat dan penduduk dari wilayah yang padat ke wilayah yang sepi, dengan memajukan wilayah yang sepi tersebut agar kesempatan kerja dan persaingan di wilayah yang sepi itu, agar penduduk yang dipindahkan tidak merasa keberatan

Kesimpulan dari yang saya paparkan adalah, peningkatan penduduk yang pesat bisa berdampak positif juga negative bagi Negara tersebut tergantung bagaimana cara mendidik generasi tersebut sehingga bisa membawa manfaat bagi Negara tersebut.

Deskripsi Diri Admin


Assalamualaikum wr.wb
            Bismillahhirrohmannirohiim. Perkenalkan nama saya Meuthia Nabila P, panggilan saya Mutia. Saya lahir dari rahim perempuan yang sangat hebat pada 7 Mei 1998. Batam adalah tempat pertama kali saya menatap dunia.
Saya berasal dari keluarga –yang alhamdulilah- berkecukupan. Ayah saya bernama lengkap Hartoyo Victor Quintoro, bekerja sebagai wiraswasta di salah satu perusahaan tambang di luar negeri. Ibu saya bernama lengkap Susilawati, bekerja di ‘perusahaan’ terbaik dan paling mulia bagi seorang wanita, yaitu Ibu Rumah Tangga. Pekerjaan yang tidak mudah, ketika harus mengajari anak-anaknya tentang kebaikan-kebaikan dunia, mengurusi kesehatan anak-anaknya, bertanggung jawab atas kebersihan rumah dan bergizinya makanan sehari-hari. Saat yang sama juga harus mengatur keuangan rumah tangga. Beliau lah yang mengantarkan anak-anaknya menjadi manusia-manusia pengembara kebaikan di muka bumi. Pekerjaan yang sangat mulia, bukan?
Saya tiga bersaudara, dan saya adalah anak tengah. Saya mempunyai seorang abang yang berbeda 4 tahun, bernama lengkap Rizky Novianto Pratama. Saat ini dia sedang mengemban ilmu Geofisika di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Saya juga mempunyai adik perempuan cantik bernama lengkap Andhini Aprilia Pratiwi dengan selisih enam tahun dari saya. Saat ini kelas 4 di SD Islam Al-Barkah Batam.
            Saya bersekolah di salah satu SMA yang menjadi favorit di Kota Batam, yaitu SMA Negeri 1 Batam jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. SMANSA sebagai sekolah favorit terbukti dari antusiasme yang sangat besar setiap kali Penerimaan Siswa Baru, baik dari dalam Batam sendiri maupun dari luar Kota Batam. Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, hampir semua bidang perlombaan selalu ada SMANSA yang menjuarai, atau minimal mengikuti lomba tersebut. Dan bukti lain tentang favoritnya SMANSA adalah banyak sekali instansi atau lembaga pendidikan, juga institusi perlombaan hampir selalu memberi informasi dan mengajak SMANSA untuk turut serta meramaikan dan berpartisipasi.
 Aktifitas sehari-hari saya adalah... Setiap pulang sekolah saya selalu mengikuti les atau eskul. Karena itulah saya selalu pulang lebih lambat daripada teman-teman lain. Sepulang itu saya biasanya istirahat atau langsung mengerjakan tugas, mengulang atau membahas duluan pelajaran keesokan harinya sampai sekitar jam 21.00 atau 21.30. Dan sejam berikutnya saya menyempatkan diri mempelajari agama Islam. Ekstrakurikuler yang saya ikuti di sekolah adalah Palang Merah Remaja, Debat Bahasa Indonesia, Karya Tulis Remaja, Bantara atau Pramuka (wajib), kemudian Robotik. Dan malam minggu saya biasanya mengiikuti MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa). Lalu di hari minggu saya mengikuti training beladiri Kungfu dan mengikuti berbagai seminar. Selebihnya di waktu luang saya banyak membaca dan menulis.
Nah, cita-cita saya apa ya?
Saya ingin menjadi ahli kesehatan, guru yang membagikan semua ilmu bermanfaat yang saya punya sebagai tabungan amal jariyah saya di akhirat kelak. Saya ingin mengabdikan diri saya dalam berbagai kegiatan sosial seperti menyekolahkan anak-anak jalanan yang tidak sekolah. Saya ingin mengadakan pelatihan keterampilan tenaga kerja bagi orang-orang jalanan seperti pengamen dan pengemis. Intinya saya hanya ingin menjadi manusia yang paling bermanfaat dan bisa membahagiakan banyak orang baik.
Mengenai pekerjaan impian, saya ingin menjadi psikolog anak. Karena menurut saya, anak kecil adalah bibit unggul yang harus dijaga, dibimbing, dipahami dengan sebaik-baiknya, dan dididik menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan dan bisa membela negaranya kapan pun dimana pun. Dengan memahami karakter dan psikis tiap-tiap anak, kita akan tahu bagaimana cara mendidiknya menjadi generasi bangsa yang membanggakan. Karena itulah saya ingin menjadi psikolog anak. Saya bercita-cita mendapatkan gelar Sarjana Psikolog, Spesialis Anak dari Universitas Padjajaran Bandung. Saya ingin masuk dengan jalur undangan atau PMDK. Tentu tidaklah mudah, lebih dari 500.000 peserta PMDK Universitas Padjajaran tahun lalu. Bagaimana zaman saya nanti ya?
Tentu saja saya akan bersungguh-sungguh belajar dan terus meningkatkan nilai raport saya, agar bisa memenuhi syarat PMDK. Saya juga akan aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar dan lomba, untuk mengumpulkan skill, ilmu, pengalaman dan sertifikat, yang mana sertifikat sangat membantu untuk masuk suatu Perguruan Tinggi Negeri. Tak lupa pastinya, saya akan meningkatkan kualitas ibadah saya dan beristiqamah dalam beribadah, agar Allah SWT memudahkan jalannya dan memberi berkah di setiap perjuangan dan perjalanan saya. Amin.

Mungkin sekian deskripsi diri saya, terima kasih. Wassalamualaikum wr.wb

Tulisan : Rumah dan Sebuah Kata Pulang



Perjalanan ini mengingatkan kita bahwa kita punya tempat bermula. Suatu tempat yang lama kita huni. Suatu tempat yang bernama rumah.

Dan sudah sejauh ini kita meninggalkannya. Rumah menjadi sesuatu yang paling sering kita tinggal pergi, tapi selalu berhasil membuat kita merasa ingin pulang.

Sejauh apapun perjalanan yang kita lakukan, setinggi apapun langit yang ingin kita capai. Kita akan kembali.

Seperti sebuah roda yang berputar, dimana sebuah titik berawal di sanalah ia akan kembali.
Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa kita tidak bisa selamanya tinggal di luar. Ada hal yang bisa memberi kita rasa aman dan terlindungi. Kita bisa tidur nyenyak tanpa takut ada yang akan mencuri, terutama mencuri hati kita. Karena di sanalah kunci rumah itu berada.

Pada akhirnya kita akan pulang ke tempat kita bermula. Kembali kepada (si)apapun yang kita sebut sebagai rumah. Dimana lelah kita berakhir dan kita membangun cinta.

Rumah, 12 September 2014 | (c)kurniawangunadi