Sabtu, 21 Maret 2015

Ingin Pintar Matematika? Makan Cokelat!

Menurut bukti dari sebuah penelitian terbaru, makan atau minum coklat sangat bermanfaat bagi kemampuan otak dalam melakukan tugas matematika, serta meningkatkan energi tubuh.
Coklat sejak lama memang telah dikenal dapat menjadi stimulan yang baik untuk kinerja kognitif, mempengaruhi suasana hati, dan juga memiliki beberapa manfaat anti kanker. Namun, hingga kini para ilmuwan tidak tahu bahwa coklat juga dapat memiliki efek positif pada kemampuan matematika kita. Para ahli menguji dampak dari makanan yang berbeda terhadap kinerja otak, dan menemukan bahwa flavanols – senyawa yang ditemukan di kakao, dan bagian dari kelompok bahan kimia yang disebut polifenol – memiliki potensi untuk meningkatkan aliran darah ke otak.
Menurut penulis utama studi tersebut, Profesor David Kennedy dari Universitas Northumbria di Inggris, temuan baru menunjukkan bahwa
siswa yang pesta coklat saat mempersiapkan ujian, mungkin akan memperoleh manfaat nyata dengan melakukannya dan kesenangan dari rasa manisnya dapat bermanfaat secara mental dalam mengerjakan tantangan tugas tersebut.
Untuk sampai pada kesimpulan ini, Profesor Kennedy dan rekan-rekannya merekrut 30 orang dan meminta mereka menghitung mundur dalam tiga kelompok dari berbagai angka acak antara 800 sampai 999. Angka-angka ini dihasilkan oleh komputer. Pada satu titik percobaan, ketika sebagian besar peserta tampaknya menjadi sangat lelah dalam melaksanakan tugas, para ilmuwan menawarkan mereka meminum secangkir kokoa yang mengandung 500 mg flavanols. Ini adalah jumlah yang sangat besar dari kandungan senyawa yang biasanya didapatkan dari sebatang coklat atau buah-buahan dan sayuran yang juga menikmati kehadiran bahan kimia tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan para relawan berulangkali terus melakukan perhitungan dan tugas jauh lebih efektif dan cepat selama hampir satu jam, setelah mengkonsumsi minuman misterius yang mengandung salah satu unsur bahagia coklat.
Namun, meskipun minuman membantu para relawan untuk menghitung secara efektif pada bagian pertama percobaan, mereka tidak bisa mengulangi hasil ketika diminta menghitung mundur dalam kelompok tujuh, yang digambarkan sebagai tugas yang lebih kompleks, yang disebabkan oleh sedikit perbedaan bagian dari otak manusia.
Menurut para peneliti, semakin gelap coklatnya, semakin tinggi jumlah flavanoids dan membawa manfaat kesehatan yang semakin baik bagi tubuh. Para peneliti mengatakan semakin sedikit kandungan gula dan susu yang ada di dalam coklat, semakin pahit rasanya. Beberapa individu telah mengembangkan semangat nyata untuk coklat pekat dan menganggap susu atau coklat putih kurang lezat. Beberapa penelitian mengenai hal ini menemukan bahwa mereka yang paling banyak mendapatkan manfaat kesehatan adalah yang memakan coklat setiap hari atau setiap hari lain. Para ahli juga menekankan fakta bahwa kesenangan akan rasa manis harus dikonsumsi dalam jumlah sedang.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa coklat membantu menjaga diabetes dan tekanan darah tinggi di bawah kendali. Para peneliti bahkan mengklaim dengan mencium aroma coklat dapat melindungi orang dari flu umum. Namun sayangnya bagi para penggemar coklat, kebiasaan ini menghasilkan lemak dan gula yang tinggi. Karena itu ahli gizi menyarankan agar konsumsi coklat dibarengi dengan diet seimbang, mengkonsumsi makanan yang kaya akan buah-buahan, sayur-sayuran, beras merah dan kacang-kacangan. Meskipun coklat belumlah pasti akan mengubah Anda menjadi seorang yang jenius akan matematika, namun coklat dapat dipastikan membantu masalah matematika sehari-hari dan tugas-tugas sekolah.
Temuan baru ini akan dipresentasikan di bulan ini pada konferensi tahunan British Psychological Society di Brighton.

Trik Berkomunikasi Dengan Remaja

Memiliki anak yang mulai beranjak dewasa bukan berarti tanggung jawab orang tua makin ringan. Begitu anak baligh dan memiliki konsekuensi pahala dan dosa, orang tua tak boleh berlepas tangan dari segala sepakterjang anak.
Terlebih saat ini, tantangan yang dihadapi anak dalam masa tumbuh kembangnya luar biasa berat. Tak hanya dari lingkungan pergaulan, juga pengaruh media masa dan teknologi informasi global. Jelas, butuh perhatian ekstra bagi orang tua dalam membimbing dan mengawasi putra - putrinya. 
Memang, saat anak beranjak remaja, orang tua cenderung dicuekin anak. Ya, dulu, ketika masih kanak - kanak, anak-anak menghujani orang tua dengan banyak pertanyaan. Begitu mulai menginjak baligh, sepertinya anak menjaga jarak dengan orang tua. Orang tua bertanya, dijawab singkat dan ketus. Terkadang hari–hari pun terlewat tanpa komunikasi berarti antara anak dan orang tua.
Padahal, di luar sana, anak–anak menyerap banyak pelajaran yang bisa jadi membawa dampak buruk bagi dirinya. Seperti penanaman pola pikir yang salah, pergaulan yang bebas, nilai-nilai kehidupan yang menyesatkan, dll. Tanpa komunikasi, orang tua menjadi tidak tahu apa saja yang sudah tertanam di benak si anak; apa saja yang dipikirkan anak; bagaimana si anak menilai dirinya dan memandang masa depan; apa saja sepak terjang si anak selama jauh dari orang tua; siapa saja teman-teman si anak, dan seterusnya.
Untuk itu, membangun komunikasi efektif antara orang tua dengan anak sangat penting. Caranya, antara lain sebagai berikut:
1. Agresif memulai percakapan.
Tentunya tidak dengan nada interogasi, tapi memancing anak supaya mau berbagi cerita. Ciptakan suasana di mana anak merasa nyaman dan senang berbagi (sharing) dengan orang tua. Tak hanya saat bertemu, saat berpisah - misal ortu kerja dan anak sekolah – tetaplah terhubung dengan hanphone misainya, untuk menyakan kabar si anak. Tentunya tidak pada jam pelajaran dan juga tidak terlalu sering agar anak tidak merasa selalu diawasi orangtua.

2. Jadi pendengar yang baik.
Terkadang anak malas berbagi dengan orang tua, karena kurang didengar. Saat anak bercerita hanya ditanggapi sambil lalu. Misal ibu sambil memasak, ayah sambil baca koran. Hal ini tertanam di benak anak, bahwa orang tua tidak butuh ceritanya. Karena itu, berhentilah sejenak, pandang dan dengarkan anak bicara.

3. Menyesuaikan diri.
Selama beberapa tahun, metode pengasuhan Anda terhadap anak ibarat jalan tol mulus. Namun saat anak beranjak dewasa, jalan itu seolah berbelok tajam. Orang tua pun harus 'banting setir' dengan menyesuaikan teknik mendidi anak.

4. Mencari waktu tepat.
Jangan lewatkan kesempatan seperti makan bersama, shalat berjamaah, tadarus usai shalat atau pengajian rumah untuk saling berkomunikasi. Di saat - saat itu seluruh anggota keluarga biasakan saling membicaraka, apa yang sudah dialaminya seharian. Jadi, tak hanya tidak hanya anak yang dituntut bercerita, orang tua pun harus berbagi, tentunya dengan bahan obrolan sesuai pemahaman anak.

5. Membuat acara bersama.
Sekali-kali keluarga perlu jalan-jalan bersama. Bukankah begitu beranjak dewasa si kecil agak susah diajak ke mana - ¬mana? Nah, acara keluarga ini bisa dijadikan kesempatan untuk makin mendekatkan hubungan antara anak dan orang tua. Dengan begitu anak merasa nyaman dan mepercayakan segala hal pada orang tuanya tanpa ada jarak.

6. Intip aktivitas anak.
Sekali waktu, tanpa sepengetahuan anak, selidiki siapa teman-temannya, buku apa yang ia baca, SMS-SMS di HP-nya, nomor telepon teman - ¬temannya. Tidak untuk Anda diskusikan dengan anak, cukup menjadi rahasia Anda.
[MU Edisi 49, Muslimah. Kholda]

Memupuk Impian Pada Anak-Anak

Setiap orangtua pasti ingin anaknya meraih cita-cita yang diinginkan oleh anaknya. Ada anak yang ingin menjadi dokter, pilot, pramugari, tentara dan masih banyak lainnya. Dukungan dan usaha adalah modal sang anak untuk meraih cita-cita yang diingingkannya kelak.

Ada beberapa Cara untuk Memupuk dan Menumbuhkan Cita-Cita Sang Anak. Mau tahu carannya ? Simak ulasan berikut :
Beri dukungan
Ada anak yang ingin menjadi seorang perdana menteri. Bila anak kita ingin melakukan sesuatu yang luar biasa, jangan dianggap angin lalu. Beri dukungan agar ia berjuang mewujudkannya.
Beri Tantangan
Meminta anak-anak untuk selalu mengenakan pakaian berbahan katun wol menimbulkan kesan seolah-olah dunia ini lebih menakutkan dari kenyataan yang sebenarnya. Sebaliknya, berilah tantangan-tantangan tertentu kepada anak-anak, yang mendorong mereka berpikir luas. Kemudian, rayakan keberhasilannya.
Kenali Dunia Luas
Beri kesempatan kepada anak-anak untuk melihat berbagai hal baru, tempat-tempat baru, dan untuk bertemu orang-orang baru. Tidak ada orang yang bisa mengubah dunia ini dengan hanya mengurung diri di rumah. Bawa mereka jalan-jalan.
 
Beli Buku
Merupakan hal biasa bila seorang pengarang mendorong orang membeli buku. Membaca bisa memperluas wawasan dan menjadi sumber inspirasi cita-cita. Karena itu, biasakan diri membeli buku.
Mengagumi Tokoh
Tidak ada salahnya bila kita mengagumi tokoh atau pahlawan tertentu. Kenyataannya, itu bisa menjadi cara brilian agar fokus pada cita-cita atau ambisi tertentu. Dorong anak-anak belajar bagaimana tokoh atau pahlawan favorit mereka mengukir prestasi dan cita-cita serta bagaimana semua itu dirintis.
Main Peran
Permainan kreatif bisa memicu berkembangnya kreativitas. Biasanya anak-anak melakukan ini secara naluriah. Namun, lebih baik lagi bila kita mendorong dan membuat skenario tertentu untuk mereka mainkan.
Bermain Berkelompok
Anak-anak akan tumbuh semakin percaya diri bila rutin bermain bersama anak-anak lain. Di sana, mereka juga belajar bagaimana cara mempengaruhi orang lain.
Terima Perubahan
Bila sebelumnya anak kita sangat ingin menjadi astronot dan hari ini tiba-tiba sangat ingin menjadi pilot, jangan mengejeknya. Perubahan itu mungkin terjadi setelah ia berpikir panjang dan akhirnya merasa kalau menerbangkan pesawat lebih mudah dicapai daripada menjadi astronot.
Bukan Soal Uang
Jangan memaksa anak-anak mengejar karier tinggi-tinggi. Dalam hidup ini, ada hal lain yang lebih mulia dari pada uang.
Semua Bisa Terjadi
Setiap individu merupakan pribadi yang unik. Dunia saat ini jauh lebih egaliter daripada sebelumnya. Apapun bisa terjadi bila kita mau mencapainya dengan sepenuh hati. Jangan menyia-nyiakan cita-cita atau impian.

9 Tips Ajari Anak Percaya D

9 Tips Ajari Rasa Percaya Diri Pada Anak





Rasa percaya yang diberikan orangtua kepada buah hati sejak kecil memengaruhi kemandirian dan kepercayaan dirinya. Hal itu termasuk dalam membebaskan anak bertualang mencari pengalaman berbeda yang suatu saat akan membawa pengaruh positif bagi dirinya.


Dengan pembiasaan dan latihan rasa percaya diri berikut ini, keberanian anak untuk tampil akan tumbuh dan berkembang. Karena untuk percaya diri balita membutuhkan waktu dan proses latihan serta kebiasaan.
1. Biarkan anak yang memutuskan ia akan tampil atau tidak. 

Dalam suatu acara, jika ada kesempatan bagi anak-anak untuk tampil, tanyakan pada anak dengan nada relaks, ia mau tampil atau tidak? Beri dia pilihan, misalnya jika tampil ia akan mendapat hadiah dan tepukan, jika tidak tampil maka hadiah dan tepukan akan diberikan kepada anak-anak yang tampil. Jangan buru-buru kecewa bila anak menggeleng, tidak antusias, atau tidak berani. Mungkin dia ingin mengobservasi dulu suasana di sekitarnya, mungkin ia sangat nervous, atau mungkin juga ia betul-betul tidak tertarik pada apa yang ada di panggung. Ulangi pertanyaan Anda setelah beberapa saat. Jangan paksa anak tampil jika dia merasa tidak nyaman.
2. Tampil ramai-ramai. 

Kalau tampil sendirian bagi anak terasa menyeramkan, biarkan dia tampil bersama anak-anak lain, berdua atau berlima. Dengan tampil ramai-ramai, anak merasa perhatian orang tidak hanya tertuju kepadanya. Kalau terpaksa, dia juga bisa ngumpet di balik punggung teman! Pengertian tampil ramai-ramai juga bisa diartikan tampil ditemani bunda atau ayah di panggung.
3. Coba-coba dan pakai alat bantu. 


Ada lho, anak yang ingin tampil menyanyi tapi dari pinggir panggung. Atau, anak tampil di panggung sambil memakai topeng – agar wajahnya tidak kelihatan – atau menyanyi putus-putus karena baru satu kalimat dia lari ke pelukan bunda, lalu kembali lagi ke panggung, dan seterusnya. Biarkan proses ini terjadi sebab merupakan cara anak untuk beradaptasi dengan perhatian publik yang tertuju kepadanya.
4. Latih anak sebelum tampil


Melatih anak sebelum tampil agar bisa menguasai kemampuannya. Buat semacam gladi resik, yang melatih dan merinci langkah-langkah yang harus dilakukan anak, mulai dari berdiri, berjalan ke panggung, memberi hormat, tersenyum, mengambil mike, menyanyi/menari/membaca puisi, mengucapkan terima kasih, dan meninggalkan panggung.
5. Besarkan hatinya. 


Image
Sebelum anak tampil, sesederhana apa pun penampilannya – misalnya hanya untuk menyerahkan buket bunga pada orang yang berpidato – katakan, “Kamu sudah berlatih keras. Saatnya kamu menunjukkan kemampuanmu.” Jika penampilannya kurang memuaskan, katakan, “Ayah dan Bunda senang dan bangga kamu berani tampil di muka umum.” Jika penampilannya memuaskan, beri dia pujian, “Kamu hebat. Yuk, makan es krim untuk merayakan.”
6. Jangan mengritik


Jika anak belum berani tampil atau hanya tampil di rumah janganlah mengkritik. Katakan saja Anda mengerti ia belum mau tampil. Namun, kapan pun ia ingin tampil, Anda siap membantu dan menemani.
7. Daftarkan anak ke klub seni, olahraga, atau apa saja yang menarik minatnya.


Cara ini membuat anak mempelajari sesuatu secara sistimatis sehingga ia menguasai suatu ketrampilan. Dan, klub biasanya memberi kesempatan pada murid-muridnya untuk tampil dalam acara yang dihadiri orangtua. Tujuannya, latihan berani tampil bagi anak dan agar orangtua bisa menyaksikan kemajuan anak.
8. Ajak anak melihat penampilan anak seusianya. 


Saat ia menyaksikan anak-anak beraksi, di dalam hatinya mungkin terbit rasa iri atau inspirasi untuk bisa seperti mereka. Tanyakan kepada anak, “Kamu mau seperti dia? Bisa, kok, kalau kamu mau belajar untuk tampil seperti dia.”
9. Biasakan tampil di acara berskala kecil


Coba biasakan anak anda tampil di acara Misalnya di acara makan malam keluarga, lomba-lomba bersama sepupu-sepupunya, pesta ulang tahun, parade tingkat RT, dan lain-lain . Itu akan melatih keberanian anak untuk tampil.

Kualitas Pendidikan di Finlandia nomor 1 lho

Sepertinya, sudah banyak yang tahu kalau Negara Finlandia lah yang justru menduduki Negara peringkat pertama dengan kualitas pendidikan paling baik di dunia. Bukan Jepang atau Amerika. Tentunya ini hanyalah diukur dalam segi akademis aja.




Perlu kita ketahui peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia. 


Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Spoiler untuk Peta Finlandia :

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. 

Spoiler untuk gambar:

Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. 

Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Spoiler untuk gambar:

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika ermeka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Anak Korban Bullying Lebih Lega Cerita Ke Orangtua nya

2 penemuan baru menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki alergi makanan atau kelebihan berat badan sangat mungkin untuk menjadi target bullying teman-temannya.
Tidak mengherankan bila para peneliti juga menemukan target bullying lebih tertekan dan cemas serta memiliki kualitas hidup yang lebih buruk secara umum jika dibandingkan dengan orang yang tidak menjadi target bullying.

Bullying sendiri telah menjadi kekhawatiran di kalangan orangtua, dokter, dan pengelola sekolah karena penelitian dan berita selalu menghubungkan bullying dan cyberbullying, dengan depresi dan bunuh diri.
"Telah ada pergeseran dan orang lebih menyadari bahwa bullying memiliki konsekuensi nyata. Ini bukan sesuatu lelucon yang lucu," kata kepala pediatri umum di Rumah Sakit Anak Boston, Dr Mark Schuster, seperti dilansir reuters, Rabu (26/12/2012)
Studi menunjukkan antara satu dari sepuluh dan satu dari tiga anak-anak dan remaja sering menjadi target bullying. Namun, angka-angka ini berbeda di setiap daerahnya.
Temuan baru datang daru dua studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
Dr Eyal Shemesh dari Mount Sinai Medical Center di New York bersama rekan-rekannya mengamati sebanyak 251 anak-anak yang ada di klinik alergi bersama kedua orangtuanyanya. Anak-anak dari usia 8 dan 17 didiagnosa alergi terhadap makanan.
Lebih dari 45 persen anak-anak tersebut mengatakan dia telah diintimidasi atau dilecehkan dengan alasan apa pun. Dan 32 persen melaporkan ditindas karena alergi yang dideritanya.
Namun alergi bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya pelecehan yang dilakukan oleh teman-temannya. Dalam studi lain, peneliti dari Yale University di New Haven Connecticut, menemukan bahwa hampir dua pertiga dari 361 remaja terdaftar dalam penurunan berat badan diintimidasi karena ukuran badannya.
Sebagian dari anak-anak tersebut mengakui sering menerima ejekan secara online, melalui pesan singkat, dan melalui email juga.
Para peneliti juga mengatakan bahwa hanya sekitar setengah dari orang tua mengetahui bahwa anak-anaknya yang alergi terhadap makanan sering diganggu oleh teman-temannya dan anak-anak cenderung lebih baik ketika keluarganya mengetahui terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
Peneliti tersebut juga menambahkan orang tua harus membuat anak-anaknya merasa nyaman ketika anak-anaknya menjadi korban bullying di sekolah.
"Anak-anak membutuhkan orang tuanya untuk menjadi teman dalam situasi seperti ini. Orang tua harus dapat membantu anak-anaknya agar selalu merasa kuat," kata Eyal. (ADT/IGW)

Senin, 09 Maret 2015

Forum Anak Batam Menuju Hari Autisme 2 April

Halo Anak Indonesia!

Ayo tunjukkan kepedulianmu untuk anak autistik dengan senyum manismu!

Dalam Rangka menyambut Hari Autisme Sedunia pada 2 April mendatang, Forum Anak Batam bekerja sama dengan ABA Batam yang merupakan bagian dari Lembaga Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Putrakami, mengadakan "Sejuta Senyum untuk Anak Autistik". 

Project ini dilaksanakan Hingga 30 Maret dengan cara mengupload foto senyummu sambil memegang kertas bertuliskan kata penyemangat dan kepedulianmu terhadap anak autistik minimal bertuliskan #SejutaSenyumUntukAnakAutistik ke Facebook page " Www.facebook.com/forumanakbatamfab ". Pada foto yang diupload, sertakan nama kamu atau Forum Anak dan kota tempat tinggalmu.

Pada Hari Autisme Sedunia nanti, foto-foto yang terkumpul akan dibuatkan video dan diberikan ke beberapa SLB yang ada di Kepulauan Riau, dan ke SLB di daerah lain apabila ada yang berminat.

Ayo Jika kamu peduli terhadap Anak Indonesia Berikan senyummu sebagai bentuk kepedulian terhadap anak autistik agar tidak ada lagi yang memandang mereka sebelah mata. Jangan lupa di Broad Cast ya karena 1 buah Broad Cast kamu sangat membantu membuat mereka ternyum lohh, salam dari Keluarga Forum Anak Batam ....Mantap!!! Salut !! Asikk!!